Tidak Ada Lagi Sekolah Internasional di Indonesia

30-03-2015 | | 0 Komentar
jis jakarta international school

Sudah beberapa tahun ini, Sekolah Internasional muncul seolah-olah menjadi primadona bagi para pelajar Indonesia. Berbekal kurikulum internasional, para orang tua berlomba-lomba memasukkan anaknya ke sekolah berlabel internasional tersebut. Status Internasional nampaknya menjadi magnet tersendiri bagi sekolah. Banyak para orang tua menilai masuk ke sekolah Internasional akan sangat berpengaruh pada perkembangan anaknya.

Label Sekolah Internasional Tidak Diperbolehkan

Sudah di mulai dari akhir tahun 2014, Sekolah Internasional di Indonesia tidak di perbolehkan lagi. Status sekolah internasional di larang setelah munculnya peraturan Permendikbud Nomor 31/2014 oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Ya, peraturan ini adalah salah satu peraturan dari menteri pendidikan kita, Anies Baswedan.

Peraturan ini terbilang cukup ketat, pasalnya bagi sekolah yang melanggar peraturan bisa di cabut ijin operasionalnya di Indonesia. Jadi, di mulai tahun 2015 sudah tidak ada lagi sekolah Internasional yang di perbolehkan menerima siswa baru.

Lalu Bagaimana Nasib Sekolah Internasional

Tapi tenang saja, walaupun label Sekolah Internasional di Indonesia sudah tidak diperbolehkan, sekolah Internasional tersebut tetap bisa beroperasi di Indonesia asalkan mereka mengganti status Internasional mereka menjadi Sekolah Nasional atau Sekolah Diplomatik atau Satuan Pendidikan Kerjasama (SPK). Dengan mengubah status tersebut, kegiatan belajar mengajar di sekolah tersebut dapat kembali berjalan dengan normal. Sekolah pun boleh menggelar penerimaan siswa baru.

Muncul pertanyaan selanjutnya, "Untuk apa jika hanya berubah nama?". Kata Sekolah Internasional sendiri sering di pakai karena memiliki gengsi tersendiri. Seperti yang kita ketahui semua sekolah Internasional biayanya cukup mahal. Tidak sedikit sekolah yang menggunakan kata sekolah Internasional bertujuan untuk meraup keuntungan yang sebesar-besarnya. Orientasi edukasi mulai hilang dari adanya sekolah Internasional.

Selain itu, sekolah internasional menggunakan kurikulum Internasional dan banyak mata pelajaran penting yang tidak ada di dalamnya. Dengan mengubah status mereka menjadi Satuan Pendidikan Kerjasama, sekolah wajib memasukkan mata pelajaran seperti Pendidikan Agama, Pendidikan Kewarganegaraan, Bahasa Indonesia dan sebagainya.

Salah satu tujuan dari perubahan status ini memang untuk memasukkan unsur-unsur budaya dan nasionalisme ke dalam sekolah-sekolah berlabel internasional yang selama ini tidak memasukkan unsur-unsur tersebut ke dalam kurikulum mereka.

Sesuai dengan slogan dari pemerintah saat ini, "Revolusi Mental", nampaknya bapak Anies Baswedan selaku menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia menginginkan sifat cinta terhadap budaya dan nasionalisme sudah di mulai semenjak masa sekolah.

Tidak ada bentuk penolakan yang berarti dari sekolah-sekolah berlabel Internasional tersebut. Bahkan mayoritas dari sekolah-sekolah tersebut telah mulai mengajukan perubahan status sekolah mereka menjadi SPK (Satuan Pendidikan Kerjasama). Baru-baru ini beberapa sekolah Internasional di Semarang telah mengubah statusnya. Semarang International School misalnya telah berubah nama menjadi Semarang Multinasional School. Perubahan status juga di ikuti banyak sekolah Internasional lainnya di seluruh penjuru Indonesia.

Bagaimana pendapat Anda dengan kebijakan dari Anies Baswedan yang mengubah status Sekolah Internasional di Indonesia ini? Apakah kebijakan ini adalah langkah yang baik atau justru sebaliknya? Kita tunggu saja hasilnya.


Share Artikel ini di Sosial Media

Belum ada komentar. Jadilah yang Pertama Memberikan Komentar
Login untuk memberikan komentar