Punya Gelar S2, Perlukah?

14-02-2015 | | 0 Komentar


Biaya pendidikan di Indonesia saat ini sangatlah mahal. Mulai dari kelompok bermain/play group yang dapat menghabiskan puluhan juta rupiah hingga saat menginjak bangku kuliah. Coba kita hitung berapa rupiah yang harus kita keluarkan sampai kita mendapatkan gelar Sarjana. Namun apakah sarjana saja cukup di jaman sekarang? Jika kita melihat berita-berita di televisi sering terdengar lulusan sarjana yang sulit dalam mendapatkan pekerjaan. Apakah penting menghabiskan dua tahun lagi di sekolah untuk mendapatkan gelar master atau magister? Berikut empat alasan mengapa kamu harus mendapatkan gelar master atau magister.

1. Gaji yang Lebih Tinggi

Dengan status akademis S2, akan menjadi parameter bagi suatu perusahaan untuk memberikan jenjang karir yang lebih cemerlang dan otomatis gaji yang lebih tinggi. Bahkan tidak sedikit pula peruhaan-perusahaan yang sengaja mengirim karyawan terbaiknya untuk mendapatkan gelar S2 ini. Tetapi perlu diingat, hal ini hanya berlaku untuk kamu yang juga memiliki pengalaman bekerja. Gabungan antara pengalaman bekerja dan status akademis yang tinggi adalah kunci untuk kamu memiliki karir yang bagus.

2. Peluang Kerja yang Lebih Baik

Coba kita lihat di berita-berita pencari pekerjaan. Hampir semua perusahaan mensyaratkan gelar sarjana sebagai syarat minimal untuk melamar. Dengan syarat yang seperti itu, tentu saja jika kita hanya memiliki sertifikat sarjana, hal tersebut bukan lagi menjadi nilai plus untuk berkompetisi di dunia pekerjaan. Dengan gelar magister/master, kamu akan mendapatkan nilai untuk berkompetisi dari sisi akademis. Selain itu, dengan memiliki gelar S2 perusahaan akan menilai kamu lebih rajin daripada yang lainnya sehingga kemungkinan diterima kerja pun menjadi lebih baik.

3. Mengembangkan Softskill

Pada program sarjana (S1) cenderung lebih berfokus pada keterampilan secara kulit saja. Sementara itu, program master/magister akan berkonsentrasi pada keterampilan yang lebih advance, seperti berpikir kritis, pemecahan masalah, dan pelatihan teknis. Keterampilan softskill seperti ini biasanya didapatkan di dunia kerja dan tidak akan kita temui saat mengenyam pendidikan untuk program sarjana. Jadi, jangan kaget jika ada lulusan bergelar MBA misalnya mendapatkan gaji awal yang cukup tinggi dibanding mereka yang hanya lulusan sarjana.

4. Bisa Mempelajari Apa yang Diinginkan

Saat mengejar gelar S1, sebagian mahasiswa lebih diarahkan untuk mempelajari suatu hal secara umum saja dan terkadang tidak ada hubungannya dengan yang mereka suka. Misalnya saja, Anda bercita-cita untuk membuat aplikasi di telepon genggam. Di program sarjana, mungkin anda hanya belajar secara dasarnya saja cara membuat aplikasi di telepon genggam tersebut.

Tentu kemampuan seperti itu bukanlah yang dibutuhkan di dunia bekerja. Oleh karena itu seringkali saat kita bekerja kita merasa seperti berkuliah itu percuma. Dan untuk bisa benar-benar menguasainya, tentu kita membutuhkan waktu untuk berlatih sendiri diluar program sarjana tersebut. Lain halnya jika kamu melanjutkan pendidikan kamu ke S2. Disini biasanya banyak sekali pilihan untuk berfokus pada satu topik tertentu yang sangat dibutuhkan di dunia pekerjaan.


Kesimpulannya adalah jika kamu memiliki dana yang cukup, mengambil gelar master/magister bukanlah suatu hal yang merugikan. Jika kamu tidak memiliki dana yang cukup, tidak perlu berkecil hati, cobalah bekerja dan belajar lebih keras secara mandiri dan perbanyak pengalaman bekerja atau dapatkan sertifikat tertentu dari training dan lain sebagainya. Dengan skill, pengalaman dan pengetahuan yang baik, kamu masih bisa berkompetisi di dunia kerja bahkan dengan pemilik gelar yang panjang sekalipun.

Share Artikel ini di Sosial Media

Belum ada komentar. Jadilah yang Pertama Memberikan Komentar
Login untuk memberikan komentar